Oleh: laurenzz | 10/12/2009

Bandarlampung…Riwayatmu Dulu (1)

Apa yang membedakan Bandarlampung tempo dulu  dengan Bandarlampung sekarang ?

Kalau ada yang mengatakan bahwa Bandarlampung sekarang menjadi semakin ramai karena menjamurnya mal-mal, pasar swalayan serta hotel : okey masih masuk akal.

Kalau ada yang mengatakan bahwa Bandarlampung sekarang lebih tertata dengan apik dan bersih, dengan tanaman hias berjejer rapi dipinggir-pinggir jalan : saya terima dengan catatan, yang kita lihat itu “tampak muka”nya doang.

Dan kalau ada yang mengatakan bahwa tata kelola pemerintahannya menjadi semakin bagus : pendapat yang wajar saja, sebab desentralisasi dan otonomi daerah seharusnya memang menjadikan pemerintahan semakin efisien.

Tapi bagaimana soal pelestarian lingkungan, utamanya pengelolaan jalur pantai di wilayah ibukota dan sekitarnya, yang beberapa tahun belakangan ini dieksploitasi besar-besaran untuk kawasan wisata dan industri?

Teman-teman, inilah kesaksian saya tentang pantai, tentang laut, tentang terumbu karang, tentang ikan, tentang biota laut dan tentang pohon bakau, yang porak poranda oleh segelintir oknum yang mengeruk keuntungan tanpa mengindahkan kelestarian alam, atas nama penataan daerah wisata……..

Dulu, 20 tahun yang lalu ketika untuk pertamakalinya saya menginjakkan kaki di provinsi paling timur sumatera ini, Pulau Pasir – daerah wisata sebelah timur laut Bandarlampung – banyak dikunjungi wisnus wisman karena keindahan hamparan pasir putihnya. Sekarang, permadani putih itu sirna sudah, diganti dengan gundukan pecahan batu kali +pasir kasar eks biota laut yang mati dan bila diinjak sangat menyakitkan telapak kaki.

Dulu, 20 tahun yang lalu ketika untuk pertama kalinya saya menginjakkan kaki di propinsi paling timur sumatra ini, dari Pulau Pasir kearah timur dipinggiran pantainya banyak ditemukan terumbu karang dengan aneka ragam biota laut serta ikan-ikan kecil berseliweran diantara batu karang. Sekarang pemandangan itu tidak tampak lagi. Pencemaran lingkungan – entah oleh siapa – sangat nyata kelihatan disini. Terumbu karang meranggas kehitaman : mati. Ikan entah lari kemana, biota laut khususnya bulu babi yang menjadi simbol kesehatan suatu perairan nggak berani nongol lagi.

Dulu, 20 tahun yang lalu ketika untuk pertama kalinya saya menginjakkan kaki di propinsi paling timur sumatra ini, saya bisa jalan kaki dari pulau pasir menyusur pantai berpasir putih sepanjang 1 km. Sekarang, jalan setapak itu ditutup oleh bangunan dan tambak yang konon untuk penangkaran udang. Oh ya yang kearah barat? kepentok proyek PLTU!! Kok bisa ya akses jalan publik ditutup oleh segelintir oknum?

Dulu, 20 tahun yang lalu ketika untuk pertama kalinya saya menginjakkan kaki di propinsi paling timur sumatra ini, di pulau pasir dan sekitarnya masih banyak dijumpai pohon bakau, pioneer pencegah abrasi dan tempat ikan serta biota laut lainnya mencari makan serta berkembang biak. Sekarang, pohon bakau itu telah diganti oleh gerumbul perdu dan sekali lagi, gundukan batu kali atas nama pemekaran daerah wisata…..

Duapuluh tahun waktu yang cukup untuk menghancurkan ekosistem kelautan, tapi diperlukan waktu ratusan tahun untuk membangun ekosistem tersebut. Pencemaran lingkungan, eksploitasi kawasan pantai dan perambahan hutan bakau adalah awal dari kehancuran ekosistem jika tidak dikelola dengan baik dan bijak. Dampaknya? Yang jelas terlihat adalah pemiskinan masyarakat sekitar. Kalau dulu para nelayan sangat mudah mendapatkan ikan atau udang dengan menempuh jarak sekian ratus meter saja dari pantai, sekarang mereka harus bersusah payah dan menambah biaya solar serta waktu, mengarahkan perahunya sekian mil laut ketengah dengan hasil yang sudah jauh berkurang. Dulu, penduduk sekitar pantai hanya dengan menggali sumur sedalam 5 meter saja sudah memperoleh air bersih sekedar untuk mandi dan keperluan lainnya, sekarang bahkan dengan kedalaman puluhan meter saja belum tentu sumur mereka keluar air……..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: