Oleh: laurenzz | 13/12/2009

Antara Telenovela dan Sinetron

Bagi Anda yang termasuk produk jadul (termasuk saya), pasti masih ingat ketika di awal tahun 90an “opera sabun” van amerika latin alias telenovela merajai tayangan di televisi kita. Semua stasiun televisi waktu itu (ada kira-kira 4 buah, termasuk tvri) berani menayangkan telenovela pada jam tayang utama, kemudian untuk menggaet penonton ibu rumah tangga, jam tayang diubah (ditambah?) pada pagi hari, siang dan sore hari. Setelah itu pokoknya tiada hari tanpa telenovela – bahkan tiada jam tanpa telenovela.

Masyarakat Indonesia bagaikan tersihir oleh telenovela. Para ibu ramai “berdiskusi” meramal nasib si anu, kejamnya si itu dan seterusnya sambil belanja sayuran di pagi hari. Remaja putri sibuk merombak penampilannya agar tampil secantik pemeran utamanya. Para bapak tidak peduli dengan jalan cerita. Mereka rajin nonton telenovela karena para pemainnya yang cantik-cantik.

Jagad Indonesia resah. Judul-judul seperi Maria Estele, Maria Mercedes, Febby sipenakluk, Betty Lafea atau Marisol lebih diminati ketimbang film-film local. Bahkan kalau waktu itu tidak ada keharusan tv swasta me-relay dunia dalam beritanya tvri atau siaran langsung kalau pak Harto sedang muncul di televisi, pasti para pemirsa lebih senang nonton telenovela.

Melihat rating film atau sinetronnya anjlog, para pelaku film – dari pemain, sutradara sampai produsen – mulai angkat bicara. Mereka “mengutuk” keberadaan telenovela sebagai tayangan yang vulglar, haru biru, jalan ceritanya dangkal dengan unsur “kebetulan” sangat menonjol dan sebagainya. Celakanya lagi ada yang angkat bicara kalau telenovela tidak sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia atau tidak sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Nah !!!

Mungkin karena hujatan dan cercaan terhadap telenovela latin semakin gencar, maka pada akhir 90an atau awal 2000an kilauan telenovela latin mulai memudar. Pada saat yang bersamaan mulai bermunculan sinetron-sinetron madein Indonesia….

Pembaca yth, apa sih bedanya telenovela latin dengan sinetron Indonesia?? Nggak ada !!

Berdasarkan panjang ceritanya, telenovela bisa ratusan episode, tapi ada sinetron yang masa tayangnya sampai 5 atau 7 tahun.

Vulglar ? Walaupun pamer aurat di sinetron tidak seberani di telenovela tapi kalau definisi vulglar diperluas jadi pamer kekayaan, ya sinetron gudangnya.

Cerita yang mengharu biru penuh dengan kelicikan, nafsu jahat, dan sebagainya di telenovela ada, di sinetron juga banyak.

Dan satu lagi, sinetron adalah sumber sumpah serapah seperti (maaf) bajingan, bangsat dan lainnya.

Jadi, sinetron Indonesia dengan telenovela latin sama alias nggak ada bedanya.

Sinetron dan telenovela nggak pantas ditonton oleh anak-anak, bahkan sebagian darinya nggak pantas ditonton oleh remaja. Tapi celakanya sinetron dan telenovela digandrungi oleh kaum ibu, seolah sudah menjadi tontonan wajib.


Responses

  1. Saya ngk setuju, Telenovela tidak bisa disandingin dengan sinetron, telenovela ceritanya bagus dan berakhir dengan kepuasan, walaupun episodenya sampai ratusan, akan tetapi kalau sinetron yang sekarang jamnya kejar tayang udah episodenya ratusan ceritanya kadang ngk masuk akal dan berbelit belit, dan pada akhirnya berakhir begitu saja, ngk ada kepuasannya.

    • Terimakasih atas komentar anda. Yang saya maksud dalam tulisan itu adalah bahwa masyarakat kita kok banyak yang munafik ya. Dulu – kalau anda masih ingat – hampir semua pelaku film mulai dari pemain sampai produser sangat memandang negatif terhadap telenovela. Tapi sekarang nyatanya mereka berlomba-lomba membuat sinetron yang menurut saya – nah ini saya setuju 100% dengan pendapat anda – ceritanya nggak masuk akal, kejar jam tayang, vulglar, dan sebagainya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: