Oleh: laurenzz | 18/12/2009

Bandarlampung….riwayatmu dulu (2)

Membaca tulisan mida saragih berjudul “nelayan manado protes pengaplingan laut” yang dikutip dari kompas.com (www.groups.yahoo.com/group/lingkungan/message/46320), saya jadi ingat masih “utang” tulisan. Postingan saya tanggal 12 des.2009 yang berjudul Bandarlampung….riwayatmu dulu (1). Angka 1 diakhir judul artinya ada yang ke 2. Nah inilah tulisan yang ke 2, lanjutan dari yang ke 1.

Pengaplingan laut bukan hanya terjadi di manado. Jauh sebelum itu, di anyer-cilegon banten juga ada oknum tertentu yang mengapling pantai dengan seenaknya. Sekarang dapat kita lihat didareah anyer, carita terus ke barat banyak hotel-hotel besar dan juga villa-villa berdiri ditepi pantai sampai menjorok kelaut sehingga akses orang menuju ke pantai semakin sulit. Oknum oknum ini pasti nggak bisa beli pantai kan? kok bisa bisanya yah mereka mengklaim pantai sebagai wilayah mereka sehingga orang tidak dapat bebas masuk selain bayar atau nginep disitu.

Kejadian-kejadian serupa pasti banyak kita jumpai dikota pantai. dan alasannya macam macam : modernisasi kota, penataan jalur pantai, pariwisata, dan yang lainnya, tapi pada hakikatnya tujuannya cuma satu : komersialisasi lingkungan pantai tanpa mempedulikan dampak buruknya bagi banyak orang.

Satu contoh lagi adalah kota bandarlampung. Sekarang, jika kita menyusuri pantai mulai sebelah barat pelabuhan panjang sampai ke TPI di teluk betung (menyusuri pantai artinya dengan menggunakan perahu dayung benar benar menyusuri pantai, karena dengan menggunakan jalan darat menyusuri pantai sudah nggak mungkin) kita akan disuguhi pemandangan yang sangat mengenaskan. Dulu, 20 tahun yang lalu ketika saya pertama kali menginjakkan kaki di lampung, daerah pantai ini masih cukup bersih. Walaupun sampah mulai terlihat banyak, tapi saya masih bisa berenang di pantai tersebut tanpa perasaan jijik karena air masih cukup bening. Karang, biota laut, ikan karang juga masih terlihat. Mencari cacing laut di tepi pantai untuk umpan memancing juga masih gampang. Sekarang ? disana sini pantai ditimbun dengan batu kali menjorok kelaut sepanjang lebih kurang setengah kilometer (mungkin sampai batas karang dengan pasir), tapi banyak yang mangkrak begitu saja. Bangunan pabrik dan hotel-hotel nampak megah dari depan, tapi merampok pantai kalau dilihat dari belakang. Akses ke pantai banyak yang terhalang dinding tinggi. Dipantainya sendiri, tercium bau sampah busuk, sampah plastik bertebaran dimana-mana, tumpahan minyak menggenang disana sini sehingga membuat warna air laut menghitam. Jangan ditanya tentang keberadaan ikan dan cacing. sampai 1 mil lautpun sekarang sudah nggak ada ikan!

Lalu yang dirugikan siapa ? Kembali para nelayan – sebagai warga yang termarjinalkan – bertambah tambah buruk nasibnya. Kembali daerah yang dua dasa warsa lalu  masih asri dan bersih menjadi korban keserakahan manusia.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: