Oleh: laurenzz | 19/12/2009

Adaptasi: pilihan yang paling rasional saat ini

Dampak kasat mata yang kita rasakan sehari hari akibat dari perubahan iklim adalah cuaca/iklim  yang ekstrim. Pertama jika sedang panas sangat terik dan menyengat. Kalau didalam rumah, udara terasa sangat panas dan gerah sehingga diperlukan energi yang cukup untuk beradaptasi. Tapi jika hujan, air bagaikan digelontor dari langit sehingga mengakibatkan banjir dimana-mana. Kedua apa yang orang jawa bilang “salah mangsa” (salah musim). Contohnya seperti sekarang ini, yang menurut hitungan baku bulan desember mendekati puncak musim hujan, tapi justru sebaliknya, sebagian besar wilayah di Indonesia sedang kekeringan akibat hujan tak kunjung datang.

Akibatnya? Petani yang pada awal september sebagai awal musim penghujan mulai mengerjakan sawahnya lagi, tapi sekarang harus gigit jari karena benih-benih padi yang baru ditanam mengering kekurangan air. Kerugian tak sedikit juga dirasakan oleh para nelayan dipantai selatan. Angin barat yang seharusnya membawa rejeki karena musim ikan telah tiba, terpaksa tidak berani melaut karena ombak setinggi 4 meteran menghadang perahu mereka.

Iklim yang ekstrim juga mengakibatkan beberapa wilayah di Indonesia kesulitan air bersih, karena panas yang terik mempercepat penguapan air dari tanah, sementara tanahnya sendiri sudah tidak mampu mengikat air akibat penggundulan hutan di daerah hulu. Di gunung kidul misalnya, masyarakat harus berjalan kaki sejauh 4 km hanya untuk mengais sekaleng air didasar sungai yang kering. Atau di kecamatan tambak – banyumas, intrusi air laut sudah mencapai 5 km dan untuk memperoleh air bersih harus mengeluarkan uang puluhan ribu setiap harinya.

Iklim yang ekstrim yang menyebabkan curah hujan diatas rata-rata, ditambah dengan daya tampung tanah dihulu menurun akibat penggundulan hutan,  mengakibatkan intensitas banjir bandang semakin tinggi. Contoh paling dekat Jakarta. Banjir bandang  sungai ciliwung dan pesanggrahan semakin sering terjadi. Juga sungai bengawan solo di jawa tengah dan jawa timur, atau sungai serayu di banyumas.

Akar permasalahan sebenarnya sudah banyak dibicarakan para ahli dan para petinggi negara, yaitu pemanasan global sebagai akibat dari efek rumah kaca. Mitigasi gas karbon adalah hal yang harus dilakukan, tapi dampak positipnya baru akan nampak puluhan tahun kedepan, itupun kalau semua negara melaksanakan komitmennya dengan konsekuen. Penanaman kembali pohon-pohon dihulu atau di daerah aliran sungai (DAS), dan pohon bakau di pantai-pantai mutlak dilakukan, sementara itu hukuman berat bagi para penebang liar harus  diterapkan tanpa pandang bulu. Bahwa greenpeace dalam press releasenya tanggal 18 Des 2009 meluncurkan lagi bukti lain kejahatan hutan yang dilakukan sinarmas grup (perusahaan raksasa di Indonesia) adalah berita yang menggembirakan. (selengkapnya lihat http://www.greenpea ce.org/seasia/id/news/sinarmas-bukti-kejahatan-hutan.

Sekali lagi, mitigasi gas karbon, atau penanaman pohon, atau penghematan pemakaian bahan bakar fosil, atau penghematan energi dan lain lainnya harus kita lakukan, tapi dampaknya baru dirasakan puluhan tahun mendatang. Lalu apa langkah jangka pendeknya? Mau tidak mau kita harus bisa beradaptasi dengan lingkungan. Sembari menunggu bumi bangun dari comanya, kita harus bisa beradaptasi dengan cuaca panas yang terik, dingin membeku, kekeringan, banjir dan sebagainya. Sejak berabad abad yang lalu, manusia adalah mahluk sosial yang paling pandai beradaptasi.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: