Oleh: laurenzz | 26/12/2009

Kopi dan Tissue vs Global Warming

Kita semakin dibuat sadar akan ancaman global warming. Berbagai usaha telah kita lakukan untuk ikut memerangi pemanasan global ini, mulai dari penghematan energi termasuk hemat listrik, dan hemat bbm. Kemudian setiap halaman rumah telah kita “hijaukan” dengan pepohonan, baik itu tanaman hias maupun pohon peneduh. Kita juga sudah berhemat dalam memakai kertas karena kita sadar, pemborosan kertas berarti hutan kita semakin gundul, dan lain sebagainya. Namun sebagian besar dari kita tidak sadar bahwa semua yang kita lakukan itu belumlah cukup. Masih ada disekitar kita – apa yang kita lakukan – ikut andil dalam peningkatan suhu permukaan bumi, yaitu gaya hidup. Modern life style – disadari atau tidak – membuat udara disekitar kita semakin panas.

Anda tidak keberatan kan, kalau saya sebut 5 tahun terakhir ini banyak sekali bermunculan warung-warung kopi (istilah modernnya caffe) di kota kota besar dan kecil, sebagai bagian dari gaya hidup? Ratusan bahkan ribuan warung kopi tersebar dipelbagai pelosok kota, tanpa disadari bahwa gaya hidup ini mengakibatkan udara kita semakin dipenuhi co2. Karena menurut penelitian, 1 cangkir kopi hitam bertanggung jawab atas 125 gram emisi karbon (co2), sedangkan 1 cangkir kopi instan menghasilkan co2 sebesar 80 gram (dua pertiganya dihasilkan waktu diproduksi sampai dengan distribusi, sedangkan sisanya dihasilkan saat membuat dan menghidangkan kopi). Jika diambil rata-rata 1 cangkir kopi menghasilkan co2 100 gram dan setiap hari 1 orang penikmat kopi minum secangkir saja, maka dalam setahun orang tersebut bertanggung jawab atas 252 kilogram co2 dan 750 liter air. Taruh kata penduduk indonesia yang berjumlah 230 juta separuhnya penikmat kopi, maka jumlah air yang dipakai sebanyak 75 milyar liter. Sedangkan co2 yang dihasilkan dalam setahun sebesar 25 juta ton, setara dengan  buangan gas co2 dari 6 juta kendaraan roda 4 setahun!!

Dulu – sekitar tahun 70 an kebawah – orang kalau hendak bepergian pasti membawa sapu tangan, entah untuk menyeka keringat, buang ingus, atau keperluan lainnya. Jenis sapu tangannya juga macem2. Kalau untuk cewek terbuat dari kain yang tipis dan halus, berwarna putih atau pink dengan sulaman gambar bunga. Sedangkan saputangan pria lebih besar sedikit, bahan lebih tebal dan berwarna putih atau biru. Saputangan ini, kalau kotor tinggal dicuci, disetrika untuk kemudian dipakai lagi. Remaja jaman sekarang pasti nggak ada lagi yang membawa bahkan jarang yang kenal saputangan. Sebagai ganti saputangan mereka menggunakan tissue. Tissue digunakan untuk membersihkan tangan, menyeka keringat, buang ingus, bahkan buang hajatpun cukup dibersihkan dengan tissue. Cobalah simak tulisan berikut ini. Semoga setelah ini banyak orang yang beralih menggunakan saputangan lagi.

Tahukah Anda bahwa untuk memproduksi 1 kg tissue dibutuhkan air sebanyak 30 liter dan listrik sebesar 4 kwh? Taruh kata setiap orang memakai tissue rata-rata hanya 50 gram per hari dan hanya 1/4 penduduk Indonesia yang menggunakan tissue (karena orang-orang miskin mana bisa membeli tissue?), maka setiap tahun Indonesia membutuhkan 21 ribu ton tissue, dan untuk memproduksinya butuh 630 juta liter air dan 84 juta kwh listrik. Artinya apa? 630 juta liter air berarti nggak perlu ada penduduk Indonesia yang kekurangan air, dan 84 juta kwh listrik artinya membuang gas co2 sebesar 42 ribu ton, setara dengan gas buang 10 ribu kendaraan roda 4 dalam setahun!!

Sejauh ini saya berbicara tentang banyaknya gas karbon yang diterbangkan keudara karena kopi dan tissue, padahal ada yang memerlukan perhatian lebih. Apa bahan dasar untuk membuat tissue ? Ya 100% kayu!! Bayangkan berapa banyak hutan kita dibabat lagi demi memanjakan gaya hidup kita! Berapa milyar liter air yang disedot dari tanah kita demi membuat kertas tipis itu, ditambah untuk membuat secangkir kopi! Oleh karena itu, hematlah pakai tissue, bijaksanalah minum kopi.


Responses

  1. bersyukur saya tidak suka minum kopi. pernah dengar kabar, hutan aceh banyak hilang digunduli untuk kebun kopi.

    dan tissue, sudah 4 tahun saya tidak menggunakan tissue. sekalipun dibilang “kayak orang tua” karena selalu bawa saputangan, tapi demi lestari lingkungan kita, itu tak mengapa

    salam lestari
    ninuk

    • selamat !!! anda telah masuk keluarga “going green”

  2. kalau kita beralih ke sapu tangan, bagaimana dengan penggunaan deterjen untuk mencuci sapu tangan tersebut, berapakah ‘biaya lingkungan’ yang dibutuhkan?

    • Penggunaan detergen memang menjadi kontroversi karena mengandung zat
      yang berbahaya bagi lingkungan. Detergen dalam jumlah signifikan konon membunuh
      bakteri-bakteri pembusuk. Semoga dalam waktu yang tidak terlalu lama ada
      produsen yang menciptakan detergen ramah lingkungan ya. terima kasih.

  3. ada sumbernya ngga? mengenai produksi tissue tsb, thx🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: