Oleh: laurenzz | 29/12/2009

Krisis pangan, akankah terjadi ? (bagian 1)

Pangan adalah kebutuhan manusia yang paling mendasar. Tanpa makanan, mustahil manusia dapat hidup. Ada kekhawatiran pada suatu saat mendatang dunia ini akan terjadi krisis pangan. Benarkah demikian? Lalu faktor-faktor apa sajakah yang bisa menyulut terjadinya krisis pangan?

Krisis pangan – menurut hemat saya – terjadi bila harga kebutuhan pangan melambung tinggi sehingga tidak terjangkau oleh sebagian besar masyarakat, atau memang terjadi kelangkaan pangan karena sebab-sebab tertentu. Keduanya mempunyai hubungan sebab akibat, dengan banyak faktor yang mempengaruhinya. faktor-faktor tersebut antara lain pengaruh global warming, ketersediaan air untuk irigasi, ketersediaan energi, ketersediaan lahan dan pengolah lahan, populasi penduduk dan regulasi dibidang pertanian.

Global Warming. Ada sementara orang berpendapat bahwa meningkatnya suhu permukaan bumi yang berarti menghangatnya udara karena pengaruh global warming akan meningkatkan produksi pertanian. Logikanya adalah, global warming terjadi karena meningkatnya gas-gas rumah kaca, diantaranya CO2. Nah, CO2 ini adalah zat penyubur tanah dan tanaman!!

Pendapat ini sebenarnya kurang tepat. Penelitian menunjukkan bahwa peningkatan suhu sebesar 10 C akan menurunkan hasil panen pertanian sebesar rata-rata 10%! Disamping itu menghangatnya suhu udara jelas akan meningkatkan aktifitas hama dan penyakit tanaman, baik dalam intensitas serangan maupun jenisnya. Kita sering membaca di Koran, di internet atau melihat di tv serangan hama-hama tanaman yang kian mengganas. Wereng, kutu putih, penggeret batang adalah 3 dari ribuan jenis hama tanaman yang hidup subur diudara hangat yang menghantui para petani.

Pemanasan global juga berdampak pada perubahan iklim, dan perubahan iklim yang ekstrim mengakibatkan adanya cuaca buruk, kemarau panjang, banjir, angin ribut, yang semuanya itu berakibat buruk bagi pertanian. Lihat di situs www.tempointeraktif.com. Kekeringan yang melanda beberapa provinsi baru-baru ini mengakibatkan ribuan hektar padi mati kekeringan (berita tanggal 17 Sept.2008). Dan banyak lagi berita-berita bencana kekeringan dan banjir yang melanda lahan pertanian kita.

Ketersediaan air. Kebutuhan air untuk pertanian/perkebunan umumnya diperoleh dari 3 cara, yaitu air sungai yang dialirkan lewat saluran irigasi, air tanah yang disedot dengan pompa air dan air hujan. Kelangkaan air sering dihubungkan dengan pengaruh global warming, karena meningkatnya suhu permukaan bumi akan mempercepat penguapan air permukaan – air sungai dan air di saluran irigasi – serta air tanah yang digunakan untuk mengairi lahan pertanian. Global warming – seperti yang disebutkan diatas – juga sering mengakibatkan cuaca menjadi ekstrim, artinya musim kemarau akan semakin kering, dan musim hujan sering terjadi bencana alam seperti banjir, angin ribut dan sebagainya. Kalau hujan? Bukankah air hujan bisa digunakan untuk mengairi lahan pertanian ? Sayangnya pendapat tersebut tidak sepenuhnya benar. Hutan-hutan dihulu dan dibantaran sungai ditebang habis sehingga kemampuan tanahnya untuk mengikat air semakin kecil. Dengan demikian hujan deras justru bisa mengakibatkan banker banding yang merusak lahan pertanian, hujan normal airnya hanya bisa dimanfaatkan sesaat, sesudah itu hilang entah kemana.

Ketersediaan energi dan bbm. Pertanian – yang istilah kerennya agriculture – sudah sejak lama menjadi industri modern. Konsekuensinya, industrialisasi pertanian menuntut modernisasi pada alat-alat pertanian, modernisasi cara pendistribusian dan modernisasi di bidang pemasarannya. Kalau dulu untuk mengolah lahan persawahan cukup dengan kerbau untuk membajak, tapi sekarang dengan traktor. Kalau dulu dalam memanen padi dengan sistim gebyok, kemudian untuk menghasilkan beras bulir padinya dimasukkan kedalam “lesung” dan di “tutu” (dipukul-pukul) dengan alu (hayo remaja sekarang nggak tau yang namanya lesung dan alu/antan kan?), tapi sekarang, memanennya dengan mesin, kemudian gabahnya dibawa ke “rice-mill”, masuk mesin, keluar sudah menjadi beras. Kalau dulu membawa sayur mayur cukup dipikul, atau dibawa dengan gerobak yang ditarik lembu, atau paling banter dibawa dengan mobil pick up atau truk, sekarang tidak cukup hanya dengan truk, tapi truknya juga dipasangi pendingin supaya sayuran tetap segar. Kalau dulu hasil panenan cukup dibawa kepasar tradisional, tapi sekarang dipasok ke supermarket atau mal, dan seterusnya.

Apa akibatnya? Dibutuhkan bahan bakar minyak (bbm) untuk menggerakan traktor, huller, mesin pengolah jagung, singkong, kentang dan sebagainya yang digunakan atas nama industrialisasi. Dibutuhkan bbm ekstra untuk menyalakan mesin pendingin yang dipasang di kendaraan pengangkut. Dibutuhkan energi listrik – yang pada akhirnya bbm – ekstra untuk penerangan di mal-mal, freezer untuk mengawetkan daging, ikan dsb, pendingin untuk menyegarkan sayur mayor dan seterusnya. Muaranya ya pada peningkatan penggunaan bbm. Jika bbm naik ? Otomatis pangan ikut naik, bahkan kadang-kadang lebih tinggi persentase kenaikkannya daripada kenaikan bbm sendiri. Jika bbm turun? Mana sih ada sejarahnya bbm turun kecuali untuk kepentingan politik tertentu? Trus gimana kalau bbm habis ? Nah, kalau yang ini lebih gawat lagi. Bbm termasuk bahan bakar fosil yang tak terbarukan, dan pada suatu saat pasti akan habis apalagi dengan eksploitasi super rakus seperti sekarang ini. Coba lihat di situs www.detikfinance.com : cadangan minyak di Indonesia tinggal 10 tahun lagi. Atau di www.bisniskeuangan.kompas.com : cadangan minyak dunia tinggal 42 tahun lagi. Jelas hal ini harus menjadi bahan pemikiran kita semua, karena pengaruhnya kepada ketersediaan pangan sangat besar. Harus ada upaya yang sistematis untuk mencari sumber-sumber energi elternatif yang menasional atau bahkan mendunia, seperti energi matahari, biofuel, energi angina dan lain sebagainya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: