Oleh: laurenzz | 31/12/2009

Krisis pangan, akankah terjadi ? (bagian 2)

Pada bagian pertama dari tulisan ini telah membahas pengaruh pemanasan global, ketersediaan bbm dan air terhadap krisis pangan. Pada bagian kedua ini akan dibahas faktor ketersediaan lahan dan pengolahnya.

Ketersediaan lahan. Tanah adalah prasyarat utama dimana tanaman dapat tumbuh. Hasil pertanian seharusnya merupakan fungsi linear terhadap ketersediaan tanah, artinya jika tanah yang digarap semakin luas maka hasil yang diperoleh seharusnya semakin banyak. Celakanya, untuk mempertahankan fungsi linear ini banyak sekali variabel-variabel yang mempengaruhinya seperti air/irigasi, variabel yang bersifat “force majeur” misalnya banjir dan kekeringan, serta kesehatan/kesuburan tanah itu sendiri. Dua variabel pertama sudah saya bahas pada bagian 1, jadi sekarang saya akan fokus pada kesuburan/kesehatan tanah.

Tanah yang subur adalah tanah yang kaya akan organisme-organisme yang secara langsung maupun tidak, dapat menyuburkan tanah. Organisme-organisme ini terdapat pada lapisan teratas tanah, menggemburkan, memberi pori-pori, memberi kemampuan untuk mengikat oksigen dan zat penyubur tanaman. Dan satu lagi, tanah berhumus ini mampu “menangkap” air sehingga tetap menjaga kelembaban tanah, prasyarat untuk tanaman tumbuh subur. Pada kenyataannya tanah semacam ini amat jarang kita jumpai lagi. Banjir yang menerjang bertubi-tubi menggerus lapisan atas tanah tersebut, atau kekeringan berkepanjangan mengakibatkan tanah atas hilang tersapu angin.

Disisi lain proses penyuburan tanah secara “alami” tersebut memakan waktu yang panjang. Petani dan pengolah lahan tidak sabar. Maka sejak puluhan tahun yang lalu para petani akrab menggunakan pupuk dan pestisida kimia sebagai cara instant menyuburkan tanaman dan memberantas hama tanaman. Dan celakanya lagi, pemerintah justru mendorong penggunaan jor-joran pupuk kimia tersebut dengan memberi subsidi, mendirikan pabrik pupuk dipelbagai kota. Apa akibatnya ? Ibarat seorang atlet yang menggunakan steroid, berjaya diwaktu muda loyo setelah tua. Begitu juga dengan tanah. Penggunaan pupuk kimia secara berlebihan membuat tanah menjadi keras meranggas, kemampuannya mengikat co2 jauh berkurang sehingga banyak yang sebenarnya tidak layak untuk menjadi lahan pertanian yang produktif.

Cerita yang lebih mengenaskan lagi adalah nasib lahan-lahan produktif yang terletak dipinggiran kota. Eforia pembangunan membuat lahan pertanian yang masih produktif berubah fungsi menjadi real estate, gedung perkantoran dan kawasan industri, mengakibatkan tanah pertanian menjadi semakin sempit. Kemudian para petani yang masih setia pada pekerjaannya membuka lahan-lahan baru – yang sebagian berupa pembabatan/pembakaran hutan – sehingga menimbulkan masalah-masalah baru seperti yang telah kita ketahui bersama. Jangka pendeknya, biaya produksi pasti bertambah tinggi seiring dengan mahalnya transportasi dari dan ke lahan pertanian mereka, dibanding jika mereka masih tetap menggarap lahan dipinggiran kota. Disisi lain para “cukong” agroculture dengan industri modernnyapun ikut membuka lahan-lahan baru untuk perkebunan kelapa sawit dan perkebunan lainnya, juga dengan membabati/membakar hutan industri dan hutan primer. Akibatnya, perluasan lahan pertanian/perkebunan berdampak “sistemik” (mengambil istilah kebangkrutan bank century, gitu) terhadap ketahanan pangan dimasa datang.

Pengolah Lahan. Siapa pengolah lahan pertanian ? Ya petani. Dulu, menjadi petani adalah profesi yang membanggakan. Tapi generasi sekarang membayangkan juga enggak kalau kelak mereka menjadi petani. Bahkan bapak petanipun rasanya tidak rela kalau anaknya kelak meneruskan profesinya. Sebagian besar dari mereka justru menyekolahkan anaknya bukan pada jurusan yang ada hubungannya dengan pertanian.

Profesi petani ini pada masa mendatang bisa menjadi salah satu faktor terjadinya krisis pangan karena jumlahnya semakin lama semakin menyusut, atau tidak sebanding dengan penambahan jumlah penduduk (rasio petani dibandingkan dengan total jumlah penduduk). Hal ini diakibatkan oleh berbagai sebab :

  • Banyak petani yang mempunyai lahan kecil menjual lahan mereka kepada petani yang lebih besar, atau kepada developer/pengembang perumahan dan kawasan industri. Mereka sekarang justru “bekerja” kepada petani yang lebih besar, atau mencari nafkah diluar bidang pertanian.
  • Profesi petani oleh sebagian masyarakat dianggap bukan profesi yang menjanjikan dimasa depan. Para bapak/ibu petani lebih senang jika anaknya menjadi pegawai kantor, atau bekerja pada bidang non-pertanian sehingga mereka menyekolahkan anak2nya pada jurusan bukan pertanian.
  • Industri pertanian/perkebunan dalam skala besar sering menggilas eksistensi petani tradisional baik dari segi produktifitas maupun pemasaran.

Degradasi tanah, penggunaan pupuk dan pestisida kimia, kurang menariknya menjadi petani, dimasa mendatang bisa mengancam ketersediaan pangan.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: