Oleh: laurenzz | 04/01/2010

Krisis pangan, akankah terjadi ? (Bagian 3)

Pada bagian 1 dan 2 telah dibahas pengaruh pemanasan global, ketersediaan bahan bakar, ketersediaan air sebagai irigasi serta ketersediaan lahan berikut pengolahnya. Pada bagian ke 3 ini kita akan membahas faktor pertumbuhan penduduk sebagai penyebab krisis pangan.

Berbicara tentang pengaruh pertumbuhan penduduk terhadap ketersediaan pangan, ada dua hal yang perlu diperhatikan. Pertama, pertambahan penduduknya sendiri, dan kedua, tingkat konsumtif akibat peningkatan kesejahteraan masyarakat,

Pertama, kalau berbicara tentang pertambahan penduduk, saya jadi teringat satu teori sewaktu kuliah ekonomi dulu. Malthus – seorang pendeta – mengemukakan teori bahwa pertumbuhan penduduk disuatu Negara akan meningkat cepat seperti deret ukur pelipatgandaan ( 1,2,4,8,16,32 ….. dst), sedangkan pertumbuhan pangan – karena keterbatasan tanah pertanian – hanya akan bertambah seperti deret hitung (1,2,3,4,5,6….dst). Arti sederhananya begini. Jika 1 orang membutuhkan 1 kg beras, maka untuk pertumbuhan penduduk sebanyak 32 orang, pada periode yang sama beras hanya tersedia sebanyak 6 kg dari yang seharusnya 32 kg. Atau dengan perkataan lain, pada periode itu 1 orang hanya mendapat jatah beras 2 ons dari yang seharusnya 1 kg!

Teori Malthus ini mungkin sedikit “berlebihan” mengingat banyak asumsi-asumsi yang tidak diperhitungkan atau belum terpikirkan pada waktu itu, seperti teknologi dan pengendalian jumlah penduduk. Pada kenyataannya sekarang, walaupun benar luas tanah terbatas, tapi kemajuan teknologi telah berhasil melipatgandakan produktifitas tanaman pangan setiap hektar tanah. Dan program pengendalian jumlah kelahiran – keluarga berencana kalau di Indonesia – pun telah berhasil mengerem pertumbuhan penduduk.

Tapi boleh jadi teori Malthus ini bisa menjadi kenyataan dimasa mendatang mengingat :

  • Tidak semua negara, terutama negara dunia ketiga menerapkan sistem keluarga berencana seperti Indonesia, jadi ledakan penduduk dunia masih mungkin terjadi. Dan yang perlu diingat, krisis pangan adalah masalah global, bukan hanya masalah negara per negara.
  • Tanah-tanah produktif untuk pertanian menyusut secara drastis dari waktu ke waktu, entah karena beralih fungsi menjadi kawasan industri dan perumahan, maupun karena banyak tanah tidak produktif lagi karena sebab-sebab tertentu seperti penggunaan pestisida dan pupuk kimia, bencana kekeringan, erosi lapisan tanah bagian atas karena banjir, angin dan sebagainya. Tulisan saya pada bagian ke 2 mengibaratkan tanah seperti atlit yang mengkonsumsi steroid. Rangsangan yang berlebihan akan mengakibatkan si atlit menjadi “layu” dimasa tuanya. Begitu juga dengan tanah.
  • Menipisnya bahan bakar fosil mengakibatkan pemerintah dan banyak perusahaan2 raksasa melirik pertanian sebagai usaha mencari bahan bakar alternatif, atau yang disebut dengan biofuel atau bioenergi. Kita bisa melihat perkebunan kelapa sawit yang menelan tanah subur jutaan hektar, dari semula digunakan sebagai bahan baku minyak kelapa sawit kini sebagian panenannya digunakan untuk membuat energi nabati. Kalau di Indonesia gencar digalakkan menanam pohon jarak untuk bahan baku energi alternatif, di Amerika, ladang-ladang jagung diperluas untuk memenuhi kebutuhan bahan baku energi yang sama.

Kedua, adalah masalah gaya hidup. Jika suatu negara berhasil meningkatkan taraf hidup masyarakatnya, maka ada kecenderungan dari penduduknya untuk menganggap makan sebagai bagian dari gaya hidup, bukan lagi melulu sebagai kebutuhan pokok faali. Kita lihat saja di negara kita. Program keluarga berencana – terutama di era orde baru, kalau era reformasi sekarang ini sepertinya mlempem ya – sangat berhasil mengendalikan jumlah penduduk. Logikanya, jika jumlah penduduk terkendali, maka akan lebih mudah untuk mensejahterakan mereka. Dan memang demikian adanya. Ditambah dengan keberhasilan pembangunan di bidang ekonomi, maka sebagian rakyat Indonesia bertambah sejahtera. Golongan menengah keatas (kaya sampai kaya raya), golongan menengah (berada) dan golongan menengah kebawah (cukupan) bertambah banyak. Akibatnya seperti yang saya sebut diatas. Makan – oleh golongan golongan ini – menjadi bagian dari gaya hidup. Bak gayung bersambut, muncullah puluhan gerai-gerai makanan specialist baik yang lokal maupun import seperti fried chicken, donat, pizza dan lain sebagainya.

Saya sebenarnya tidak mempersoalkan kemunculan gerai-gerai tersebut. Justru yang saya khawatirkan adalah, apakah dalam jangka panjang harga yang dibandrol tidak mempengaruhi kegiatan ekonomi keluarga secara keseluruhan ? Bayangkan, sepiring nasi dibandrol sekitar 4000 – 5000 rupiah dan sepotong ayam goreng 10.000 rupiah, padahal di warung makan biasa harga sepiring nasi paling mahal 2000 rupiah dan sepotong ayam goreng masih bisa dijual dengan harga 4000 rupiah. Dampaknya ? Jelas ada seperti :

  • Selisih harga seperti diatas jelas merupakan keuntungan minimal, yang sebagian diperhitungkan dengan sewa tempat dan biaya operasional, sedangkan sisa keuntungan dibawa kenegara asal kalau siempunya orang asing, atau untuk membayar lisensi/franchise untuk pemilik lokal (uang franchise ini juga hengkang kenegara asal kan?).
  • Berpengaruh pada harga pangan khususnya beras. Sekarang disuper market Anda gampang menjumpai beras yang harga perkantungnya (10kg) 80.000 rupiah, bahkan ada yang 125.000 rupiah, karena kata labelnya beras tersebut asli dari Thailand, atau beras organik, atau beras khusus penderita diabet, beras super dan sebagainya. Bandingkan dengan harga beras IR (lokal) yang hanya 5500/kg.
  • Kebiasaan makan digerai-gerai semacam itu jelas menambah beban keuangan keluarga, yang seharusnya dapat digunakan untuk keperluan lain yang lebih penting.

Pertumbuhan penduduk dan gaya hidup rakyat yang sejahtera secara nyata memang belum terlihat berdampak pada ancaman krisis pangan, karena pemerintah pada umumnya masih mampu melakukan rekayasa teknologi untuk meningkatkan produktifitas pertanian dan pengendalian penduduk. Tapi bukan tidak mungkin dalam masa mendatang terjadi ledakan penduduk yang menyebabkan krisis pangan secara global.


    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s

    Kategori

    %d blogger menyukai ini: