Oleh: laurenzz | 05/01/2010

Krisis pangan, akankah terjadi ? (bagian 4 – habis)

Bagian ke 4 dari empat tulisan ini berupa rangkuman dari 3 tulisan sebelumnya.

Pengaruh global warning sungguh luar biasa. Suhu yang menghangat mengakibatkan es dan gletser lebih cepat mencair sehingga dibeberapa tempat cadangan air minum maupun air untuk keperluan irigasi pertanian terancam lebih cepat habis. Suhu yang lebih hangat juga mempercepat penguapan air tanah, air sungai dan danau. Tanah terancam kering dan tandus karena tidak ada air untuk membasahi, dan akibatnya, hasil panen ikut terancam turun. Suhu yang lebih hangat dari sebelumnya menjadi surga bagi berkembangbiaknya penyakit dan hama tanaman, yang celakanya banyak yang bermutasi karena serangan gencar penggunaan pestisida, sehingga kemungkinan gagal panen semakin tinggi. Pemanasan global juga mengakibatkan perubahan iklim. Iklim yang ekstrim lebih sering terjadi. Panas yang lebih terik atau banjir yang melumatkan ratusan bahkan ribuan hektar tanaman pertanian menjadi lebih sering kita dengar dan alami.

Industrialisasi pertanian – seperti pada umumnya sebuah industri – berbasis pada efisiensi dan teknologi. Efisiensi pada dasarnya adalah mencapai hasil yang maksimal dengan menggunakan sumber daya seminimal mungkin. Maka di bidang pertanian ini banyak pekerjaan manusia yang diganti oleh mesin. Membajak, memanen, mengolah, mengangkut, menyimpan dan sebagainya, semuanya dikerjakan oleh mesin. Akibatnya dibutuhkan bahan bakar minyak lebih besar untuk menggerakkan mesin mesin dan mengangkut hasil panen. Dibutuhkan energi listrik lebih besar untuk mesin pengawet dan pendingin. Akibat lebih jauh, ada hubungan yang sensitif antara hasil pertanian dan bahan bakar minyak yang celakanya cadangannya semakin menipis. Dengan demikian kenaikan harga bbm secara otomatis akan menaikkan harga hasil pertanian yang pada suatu saat bisa mencekik leher sebagaian besar masyarakat.

Tanah produktif yang digunakan untuk pertanian semakin lama kian menyempit karena alih fungsi tanah pertanian menjadi real estate ataupun kawasan industri atau peruntukan lainnya. Pembukaan lahan baru pasti tidak akan seimbang dengan alih fungsi ini, karena pembukaan lahan baru berarti perambahan hutan menjadi tanah pertanian, suatu hal yang harus dipikirkan sungguh2 dampaknya. Disisi lain, tanah yang masih produktif digenjot dengan pupuk kimia, yang dalam jangka panjang menurunkan kemampuan tanah untuk mengikat co2, zat penyubur tanah sehingga suatu saat nanti tanah menjadi kering dan tidak dapat ditanami lagi.

Pengolah tanahpun (baca : petani) sulit untuk regenerasi. Beberapa tahun mendatang jika petani-petani sekarang sudah tua dan tidak mampu bekerja disawah lagi, siapa penggantinya ? Kalau suatu saat saya berkesempatan mengadakan survey di SMU-SMU dan memberi pertanyaan begini : siapa yang bercita-cita menjadi petani ? Saya jamin sangat jarang anak-anak muda jaman sekarang yang ingin menjadi petani. Lalu kalau tidak ada petani, siapa yang mengolah lahan pertanian ?

Pertumbuhan penduduk berarti bertambah pula mulut manusia yang harus diberi makan. Pertumbuhan yang tak terkendali pasti mengundang bencana karena krisis pangan adalah masalah global, masalah dunia. Akankah pemikiran Malthus terbukti ? Wah amit-amit!!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: