Oleh: laurenzz | 16/01/2010

Orang tua, ajari anak Anda mencintai lingkungan hidupnya

Salah satu kenangan masa kecil yang masih membekas dalam ingatan saya adalah ketika saya diajak kakek untuk melihat-lihat sawahnya. Sawah kakek terhitung cukup luas, buruhnya (pekerja) juga cukup banyak. Mulai dari persiapan lahan seperti mencangkuli dan membalik-balik tanah, mengairi, membajak, menanam padi sampai panen, semua dikerjakan oleh buruh buruh tersebut. Saat paling menyenangkan adalah ketika jam makan tiba. Nasinya sampai sebakul besar, lauk pauk cukup sayuran oseng (kacang panjang, tempe atau kangkung), sayur kuah, ikan asin dan sambal, di”kirim” oleh pembantu rumah kakek saya. Wuuah nikmatnya. Walaupun dengan lauk seadanya tapi kalau makan rame-rame begitu, dialam terbuka lagi, sungguh mempunyai kenikmatan sendiri. Seandainya waktu itu saya sudah cukup dewasa, pasti saya akan berbuat lebih banyak dari sekedar menikmati “makan bersama”, atau meniti pematang memancing belut, atau membantu (merecoki!) para pekerja saat panen tiba. Saya pasti punya cukup banyak waktu untuk mengagumi ciptaanNya. Udara yang saya hirup terasa masih sangat segar karena desa saya waktu itu memang belum terlalu banyak kendaraan, apalagi pabrik-pabrik/industri. Sejauh mata memandang hanya hamparan sawah bak permadani hijau diselingi gerumbul gerumbul atau kelompok rumah penduduk. Kemudian di garis belakang, terlihat ladang dan hutan yang nampak masih sangat lebat, dan kebelakang lagi nampak dengan jelas gunung Slamet yang berdiri dengan kokohnya.

Kenangan semacam itu pasti bukan menjadi bagian dari hidup anak-anak kita sekarang. Adik sepupu saya yang tinggal di Jakarta – sewaktu masih kelas 4 SD – bahkan tidak tahu yang namanya sawah itu seperti apa, nggak tau kalau nasi yang dia makan berasal dari padi yang ditanam di sawah! Kemajuan teknologi telah mengajarkan kepada anak-anak kita gaya hidup modern yang serba instant, makanan instant tanpa memikirkan dari mana makanan itu diperoleh, nggak peduli bahwa kebanyakan makanan yang mereka beli dibungkus dengan bahan yang berbahaya bagi kesehatan mereka – atau lebih luas lagi – mengancam lingkungan hidup mereka.

Anak-anak – sejak dini – seyogyanya telah diajarkan akan pentingnya lingkungan hidup yang baik dan sehat, sesuai dengan logika alam pikir mereka. Contoh sederhana adalah soal membuang sampah. Jangan hanya mendisplinkan mereka untuk membuang sampah pada tempatnya, tapi berilah juga pengertian dengan bahasa yang sederhana mengapa mereka harus membuang sampah pada tempat yang telah disediakan. Bahwa sampah jika dibiarkan berserakan dan membusuk dapat menjadi sarang penyakit, atau justru sampah yang tidak dapat membusuk – seperti plastik – jika dibakar atau terbakar pada tempat yang tidak seharusnya akan mengeluarkan gas yang berbahaya bagi lingkungan mereka. Nah dari sini pembahasan akan berkembang dengan sendirinya, misalkan tentang bahaya pembungkus makanan dengan plastik, dan sebagainya.

Menginjak usia sekolah – baik dirumah maupun disekolah – perkenalkan kepada anak-anak kita cara menanam dan merawat pohon. Beri pengertian bahwa pohon juga makhluk hidup yang perlu dirawat dengan kasih sayang setelah ditanam. Bagaimana cara merawat? Siramlah dengan air secukupnya setiap hari, karena pohon juga perlu minum seperti kita, tapi jangan beri air terlalu banyak, karena pohon seperti juga kita kalau terlalu banyak minum perut akan kembung ditandai dengan akar yang membusuk. Pada waktu tertentu berilah pupuk, karena seperti manusia, pohon juga perlu multi vitamin. Nah, dari sini pembahasan juga dapat berkembang pada berbagai persoalan, misalnya tentang pupuk anorganik (kimia) yang justru akan mengurangi tingkat kesuburan tanah, atau berbahaya bagi kesehatan kita karena mengeluarkan gas-gas beracun, atau berbahaya bagi makhluk hidup di air jika terbawa air ke sungai, dan sebagainya.

Berilah juga pengertian bahwa pohon, dapat menjadi peneduh di siang hari yang panas, dan menyegarkan udara disekitar kita karena pohon mengeluarkan oksigen dan menyerap karbon (tentunya dengan bahasa yang sederhana). Bahkan ada jenis-jenis pohon tertentu yang dapat menyerap racun dan zat-zat polutan dari udara (seperti sansivera atau lebih terkenal dengan nama lidah mertua). Semakin banyak anak-anak kita tahu manfaat pohon bagi kehidupannya, pasti mereka semakin mencintai dan memelihara lingkungan dimana mereka hidup, sebatas kemampuan dan umur mereka. Dan kelak jika dewasa, saya yakin anak-anak kita akan menjadi orang yang cinta lingkungan, mensyukuri ciptaan Tuhan, dan saya yakin mereka tidak akan menjadi pembalak liar!!

Untuk bapak/ibu guru, sering-seringlah mengajak anak didik Anda untuk berkunjung ke sawah, ke ladang, kedesa. Perkenalkan jenis-jenis tanaman yang mereka temukan sehari-hari dalam bentuk “sudah jadi”, seperti padi yang menghasilkan beras, singkong untuk dibuat getuk, jagung menjadi pop corn, dan sebagainya. Jalan-jalan atau istilahnya “study wisata” misalnya ke monument, atau ke museum, atau ke ancol, atau ke taman safari juga penting, tapi berikanlah porsi issu lingkungan hidup yang lebih besar agar anak-anak kita semakin mencintai lingkungannya. Pada waktu acara kepramukaan atau permisahan siswa atau acara outdoor lainnya, hindari acara api unggun, karena membakar kayu berarti menciptakan gas CO dan partikel abu.

Bersyukurlah mulai tahun ini pemerintah cq departemen pendidikan mulai memasukkan issu-issu lingkungan hidup (yang saya dengar hal perubahan iklim) kedalam kurikulum sekolah. Semoga awal yang baik ini diikuti dengan kebaikan kebaikan yang lain, sehingga siswa atau lebih luas lagi anak-anak Indonesia semakin memahami makna lingkungan yang sehat bagi kehidupan mereka.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: