Oleh: laurenzz | 19/01/2010

Lawakan “styrofoam” ala opera van java

Sebagian masyarakat Indonesia pasti pernah menonton komedi di salah satu stasiun TV yang berjudul “opera van java”, yang ditayangkan pada “jam puncak” setiap hari senin sampai dengan hari jumat. Sayapun sebenarnya termasuk salah satu penggemar komedi ini, karena disamping banyak pemain muda berbakat, juga didukung oleh pemain senior yang menjadi favorit saya sejak lama : nunung dan parto. Nunung dengan gaya ganjennya yang menggemaskan, dan parto dengan aksen banyumasannya yang terkesan wajar tidak dibuat-buat. Tapi setelah sekian lama saya setia nonton acara ini, akhirnya saya sadar bahwa ada sesuatu yang keliru dalam mengeksplorasi lawakan mereka, setidaknya beberapa bulan terakhir ini…………… Kita tinggalkan dulu ki dalang parto dengan opera van javanya. Saya akan membahas hal yang lebih esensi dulu, baru kembali ke bahasan sesuai judul postingan kali ini.

Styrofoam.

Jika saya menyebut styrofoam, pasti sebagian besar orang pasti sudah tahu bahwa benda ini berwarna putih, berbentuk lembaran (sheet), kemudian disusun oleh sesuatu mirip manik-manik yang “tertata dan terekat” rapi sehingga sering disebut dengan busa plastik. Kegunaan styrofoam ini sangat luas. Diantaranya dapat digunakan sebagai bahan insulator, untuk produk-produk kerajinan, untuk bantalan packaging barang elektronik dan sebagainya. Tak cukup pada produk-produk bukan makanan, penggunaan styrofoam merambah juga ke produk-produk makanan/minuman kemasan, seperti untuk membuat kotak makanan, kotak telur, cangkir untuk kopi, cangkir es krim, piring, kotak buah dan sebagainya. Coba Anda ke gerai-gerai makanan terkenal. Pesanlah fried chicken atau mie dengan es soft drink. Nah, pembungkusnya yang apik itulah yang dinamakan styrofoam. Oh ya, sebenarnya styrofoam itu hanya merek dagang lho, yang diproduksi oleh Dow Chemical Company (dari wikipedia). Jadi sebutan yang benar untuk bahan bahan cangkir, kotak makanan, dan sebagainya itu sebenarnya adalah polystyrene. Tapi ya sudahlah, orang sudah kadung familiar dengan sebutan styrofoam, seperti kebanyakan orang menyebut semua air mineral dengan “Aqua” yang sebenarnya hanya merek dagang. Saya juga yakin kalau Dow Chemical Company nggak keberatan. Itung-itung promosi gratis!!

Bahan utama styrofoam ini adalah styrene – reinkarnasi dari benzene – suatu zat yang tidak berwarna tapi “berbau” manis menyengat. Styrene sejak tahun 1940 telah diekploitasi secara besar besaran untuk bahan baku plastik, karet sintesis dan bahan dasar fiberglass. Nah, styrene inilah yang sudah sejak lama dicurigai menyebabkan masalah pada kesehatan manusia, terutama pada tempat-tempat makanan/minuman yang terbuat dari styrofoam seperti yang saya sebutkan diatas. Jadi jika Anda sering membeli makanan dengan bungkus dari styrofoam, harap hati hati karena styrene lebih mudah larut pada air panas seperti kopi, dan pada makanan berlemak seperti mie, fried chicken, nasi goreng dan sebagainya (yang celakanya hampir semua makanan berlemak menjadi makanan favorit kita bukan?).

Kalau kita “menelan” styrene sintesis itu secara berlebih, dampaknya apa? Inilah antara lain daftar penyakit yang diduga disebabkan oleh styrene (sumber: foam cups and containers/grinning planet, april 2008) :

  • Gangguan pada fungsi hormon yang mengakibatkan penyakit thyroid (gondok), pada wanita mengakibatkan menstruasi tidak teratur, dan gangguan hormonal lainnya.
  • Kanker payu dara pada wanita dan kanker prostat pada pria.
  • Berkurangnya kadar hemoglobine pada tubuh
  • Gangguan pada kromosom, efek-efek neurotoxic seperti susah tidur, rasa cemas yang berlebihan, dan gangguan pada system syaraf

Kita kembali ke opera van java. Kenapa saya bilang ada yang keliru dalam mengeksplorasi lawakan mereka ? Begini : properti mereka kebanyakan terbuat dari bahan yang barusan saya uraikan diatas, styrofoam. Properti berupa motor, scooter, bangku, kursi, meja, almari, tongkat, semuanya terbuat dari styrofoam. Karena sifatnya yang lunak dan empuk, maka badan kita tidak akan terasa sakit jika kebentur benda benda yang terbuat dari styrofoam ini. Nah, jadilah styrofoam dieksploitasi untuk bahan lawakan, seperti lawan main yang didorong menabrak lemari, praaaak!!! Lemarinya pecah berantakan, orangnya jatuh, dan geerrrr….ketawa. Atau ada lagi teman main dipersilahkan duduk di kursi, byaakkkk!! Kursinya patah dan orangnya jatuh terduduk. Geerrrr, penonton dan sipelawak tertawa senang. Adalagi seolah olah sipemain dipukul dengan sebatang kayu, bukan orangnya yang puyeng, tapi “kayunya” yang patah, dan sebagainya………

Pembaca, ada dua hal dalam “lawakan styrofoam” ini yang membuat saya prihatin. Pertama, dikemanakan kursi atau almari atau tongkat atau motor styrofoam yang telah berantakan itu ? Pastinya ya dibuang kan? Nah, styrofoam berbahan dasar sama dengan plastik, yaitu polystyrene, yang jika menjadi sampah mempunyai sifat yang sama dengan plastik, yaitu tidak terbarukan, artinya tidak dapat busuk. Celakanya lagi jika sampah ini sampai terbuang dan memampatkan saluran pembuangan air atau sungai, akibatnya kita semua sudah tahu. Kedua, walaupun belum ada penelitian yang memadai, tapi selalu ada kemungkinan styrene ini masuk ke tubuh kita melalui udara. Debu-debu styrofoam saat “kursi” yang diduduki pecah misalnya, pasti menghasilkan debu-debu styrofoam yang bukan tidak mungkin terhisap oleh hidung dan masuk ke paru-paru. Nah pak parto, pertimbangkanlah masalah kesehatan jika hendak membuat opera-opera yang lain.


Responses

  1. perlu mencari bahan lain yang aman tidak hanya bagi si pemakai saat itu demikian jg bagi lingkungan, atau alternatif lainnya di daur ulang untuk opera van java berikutnya ????

  2. lebih baik pakai yang bener aja……tar kan banyak yang opname


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: