Oleh: laurenzz | 12/02/2010

Sisi lain dari pansus century

Ingar bingar berita tentang pansus hak angket bank century menghiasi semua media cetak dan elektronik beberapa bulan terakhir ini. Pansus yang dibentuk pada tanggal 1 desember 2009 tersebut sangat menyedot perhatian berbagai kalangan, baik dari pemerintah sendiri, kaum intelektual/akademisi, mahasiswa, sampai ke rakyat jelata. Pansusnya sendiri beranggotakan 30 orang dari fraksi-fraksi yang ada di DPR, dan akan bekerja selama 3 bulan (90 hari)…….

Saya sendiri sebenarnya cukup berminat dengan berita-berita politik macam pansus century ini. Walaupun ujung-ujungnya sudah bisa ditebak, tapi proses pendalaman materi dan penyelidikannya seru juga untuk diikuti, entah beneran atau pura-pura “galak” – misalnya – bagi saya nggak penting. Cuma kali ini saya akan menulis dari sisi lain tentang pansus century ini sesuai dengan tema blog ini, yaitu tentang lingkungan hidup. Begini…..

Sejujurnya, pada awal-awal sidang pansus saya tidak memperhatikan tumpukan dokumen dan kertas kerja dimeja setiap anggota pansus, karena perhatian saya begitu tersita dengan pertanyaan-pertanyaan kritis anggota dewan dan jawaban-jawaban yang tak kalah pinternya dari para saksi. Tapi lama kelamaan – barangkali karena jenuh juga ya – perhatian saya mulai tertuju ke meja anggota pansus. Bukan tertarik pada kardus makanan yang pasti isinya enak-enak, tapi pada tumpukan dokumen dan kertas kerja para anggota pansus tersebut. Kemudian saya mulai berhitung. Kalau satu anggota pansus membawa atau membekali dirinya dengan dokumen sebanyak 300 lembar, maka jumlah kertas yang digunakan bagi seluruh anggota pansus mencapai 30×300=9000 lembar, setara dengan 18 rim kertas foto kopi. Itu dalam sehari. Kalau dalam 90 hari ? Taruh kata rata-rata dalam 1 hari seorang anggota pansus membutuhkan dokumen/kertas kerja setebal 200 lembar, maka dalam 90 hari masa kerja mereka untuk seluruh anggota dibutuhkan kertas 30x200x90 = 540.000 lembar atau 1.080 rim!!

Selanjutnya, berapa banyak saksi yang telah dihadirkan pansus century? Jika mengacu pada rapat internal pansus tanggal 11 desember 2009 (www.hariansib.com), maka pansus rencananya akan memanggil saksi sebanyak 100 orang. Jika dihitung gampangnya, rata-rata seorang saksi membawa dokumen/kertas kerja sebanyak 200 lembar (pasti ada yang lebih seperti LPS dan PPTAK, saya lihat membawa “timbunan” kertas), maka kertas yang digunakan mencapai 200×100 = 20.000 lembar atau 40 rim. Kecil!!

Kemudian, berapa banyak dokumen yang “disita” pansus dari KSSK, BI, LPS dan BPK? www.tempointeraktif.com tanggal 11 pebruari 2009 melaporkan begini : dari KSSK 73 buah odner, BI 37 buah, LPS 19 buah dan rencananya BPK 196 buah odner. Jadi total ada 325 buah odner. Lalu, apakah setiap anggota pansus mendapat salinan 325 buah odner dokumen itu? Kalau ya, rasanya dugaan saya terlalu berlebihan. Makanya saya asumsikan setiap fraksi saja yang memperoleh salinan dokumen tersebut. Jika setiap odner berisi 200 lembar kertas, maka jumlah kertas yang dipakai oleh 9 fraksi tersebut adalah 9x325x200 = 585.000 lembar, atau setara dengan 1.170 rim.

Nah, berarti kertas yang diperlukan selama pansus century ini bekerja – dari 1 desember 2009 sampai tiga bulan kedepan – adalah sebanyak 1,145,000 lembar atau 2.290 rim. Sekarang saya akan berhitung kebutuhan bahan baku kertas (baca : kayu) untuk membuat 1.145.000 lembar kertas. Begini :

Rata-rata pohon pinus (bahan baku kertas) di Indonesia yang ditebang untuk bahan baku industri adalah yang berdiameter 25cm dengan ketinggian 18m, sehingga volume dari sebatang kayu adalah : 3.14×0.125 2 x18 = 0.88 m3. Tapi diameter kayu pinus tidak semuanya 25cm karena makin keatas makin kecil kan? Jadi volume kayu sesungguhnya anggap saja dikurangi 30% nya, menjadi 70% x 0.88 = 0.62 m3. Rata-rata berat kayu pinus adalah 600kg per m3, jadi untuk volume kayu 0.62 m3 beratnya sekitar 0.62×600 = 372 kg. Jadi singkatnya, berat sebatang kayu pinus yang berdiameter 25cm dan tinggi 18m adalah 372kg.

Kita tahu bahwa pada pembuatan kertas, kayu diolah menjadi pulp (bubur kertas), hasil yang diperoleh sekitar 50%-nya saja, karena sekitar setengah dari pohon yang diolah berupa mata kayu, lignin atau bahan lainnya yang tidak bagus untuk membuat kertas. Sehingga sebatang pohon pinus menghasilkan sekitar 186 kg kertas. Nah, berat 1 rim (500 lembar) kertas foto kopi sekitar 2.5 kg, jadi 1 batang pohon pinus menghasilkan kertas sebanyak 74 rim atau 37.000 lembar…… (diadaptasi dari www.tentangkayu.com dan www.howstuffworks.com dengan penyesuaian seperlunya). Lalu kesimpulannya apa? Yaitu bahwa untuk menyelesaikan tugasnya, pansus century membutuhkan 1,145,000 lembar kertas, setara dengan 31 batang pohon pinus. Atau dengan perkataan lain, ada 31 batang pohon pinus yang ditebang dan dijadikan kertas untuk memenuhi kebutuhan pansus century akan kertas!!

Ini baru sebuah pansus, yang beranggotakan hanya 30 orang. Lha kalau seluruh anggota dewan yang berjumlah 560 orang itu ? Coba kita hitung hitung kasar. Untuk menetapkan sebuah undang-undang, tentu dibahas rancangan undang-undangnya terlebih dulu. Sebuah rancangan undang-undang yang disodorkan pemerintah pasti nggak bisa sekali diajukan langsung jadi atau setuju semuanya kaya jaman orba dulu. Diperlukan beberapa kali revisi, katakanlah 5 kali revisi. Jika tebal rancangan itu 200 halaman, maka kertas yang diperlukan untuk membuat 1 undang-undang adalah 200x5x560 = 560.000 lembar. Lha kalau selama masa kerja DPR yang 5 tahun itu mengesahkan 100 undang-undang ? Tentunya dibutuhkan kertas sebanyak 56 juta lembar, atau setara dengan 1500an batang pohon!!!

Sampai pada titik ini, saya sangat setuju kalau setiap anggota DPR diberi laptop untuk menunjang tugas-tugasnya seperti yang rame diberitakan baru-baru ini, asalkan pemberian laptop ini juga dikaitkan dengan semangat “going green”, yang antara lain, pengurangan pemakaian material berbahan baku kayu (baca : kertas). Sebenarnya pemakaian laptop ini lebih praktis kok. Para anggota DPR tersebut tinggal mengakses web milik LPS misalnya, dengan kode tertentu bisa men-download dokumen yang mereka butuhkan, jadi nggak usah susah susah mengcopy. Teknisnya? Wah di Indonesia banyak sekali pakar teknologi informatika yang pasti bisa merancang teknisnya. Dan legalitas pemakaian dokumen elektronik ini? Nah, ini bagian beliau-beliau yang ahli membuat undang-undang!


Responses

  1. saya setuju dengan konsep go green, namun pemakaian kertas di indonesia masih relaitf aman. kita masih bisa produksi kayu…yang lebih mengkhawatirkan menurut saya adalah pemakaian plastik, karena plastik bisa mencemari lingkungan tanah dan membuat tanah tidak subur. kita lebih fokuskan pada pengurangan penggunaan plastik daripada kerts terlebih dahulu. menurut saya itu lebih prioritas dan lebih urgent

    • Terimakasih atas komentar anda. Dalam tulisan saya “bumi makin panas” dan “going green : tanggung jawab kita semua” saya juga mengingatkan bahaya plastik dengan slogan “say no to plastic”. Tapi akan lebih baik jika pengurangan pemakaian plastik dibarengi juga dengan pemakaian kertas dengan bijak agar hutan kita nggak cepat gundul bukan?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: