Oleh: laurenzz | 21/04/2010

Sanitation on Climate Change (1)

Berbicara masalah pemanasan global dan perubahan iklim rasanya tidak akan pernah basi justru karena kedua topik tersebut sudah menjadi issu global yang mendunia. Hampir semua orang – terutama yang “go green” – membicarakan, membahas, memberi informasi serta memberikan pandangan dan solusi, namun sepertinya – setidaknya saya – nggak pernah bosan untuk membaca dan memahami pandangan mereka.  Sayapun setidaknya sudah dua atau tiga kali menulis diblog ini yang topiknya sekitar pemanasan global atau perubahan iklim. Dan saya tidak akan pernah merasa bosan untuk berseru kepada Anda sekalian : jadilah individu yang “go-green” karena jika  semua orang penghuni planet ini menjadi “manusia hijau”, niscaya ancaman pemanasan global dan perubahan iklim dapat teratasi. Percayalah saudara, ini sebuah keniscayaan!!

Beberapa waktu yang lalu ketika saya bongkar-bongkar file, saya menemukan sebuah makalah yang berjudul “Climate Change and its effect on Water, Sanitation and Hygiene”, ditulis oleh Madhav Narayan Shresta, Ph.D, seorang pakar lingkungan dan sumber daya air.  (Terus terang saya lupa dari mana saya memperoleh makalah tersebut, tapi jika Anda berkenan bersusah payah sedikit mencari di search engine nama tersebut diatas, pasti Anda menemukannya). Tulisan saya kali ini sebagian saya sunting dari makalah tersebut………

Perubahan iklim berpangkal pada perubahan faktor-faktor yang mempengaruhi iklim seperti suhu, udara dan air. Faktor- faktor inipun sangat dipengaruhi oleh panas matahari yang “memanggang” atmosfer dan permukaan bumi sehingga mengakibatkan pergerakan uap air dan udara. Artinya, semakin banyak panas yang “tertangkap” oleh atmosfer dan kulit bumi, maka pergerakan uap air dan udara akan semakin cepat. Disisi lain panas matahari yang sebagian dipancarkan kembali ke atas oleh permukaan bumi dan aerosol (partikel-partikel yang sangat kecil berupa uap air, debu dan partikel kimiawi lainnya) terperangkap oleh gas-gas rumah kaca sehingga menambah pergerakan udara dan uap air semakin ekstrim. Makin banyak panas yang terperangkap dilapisan bawah atmosfer, maka makin ekstrim pergerakan mereka. Pengaruhnya dimuka bumi ini adalah semakin sering terjadi hal-hal ekstrim seperti udara yang sangat kering atau sangat basah ditandai dengan hujan yang lama dan sangat lebat, semakin sering terjadi badai, angin ribut atau puting beliung, semakin kerap terjadi banjir atau gelombang laut yang tinggi. Itulah arti perubahan iklim.

Lalu, mengapa semakin banyak panas yang terperangkap dilapisan atmosfer kita? Nah, disinilah masalahnya! Panas ditangkap dan diserap oleh apa yang disebut dengan gas-gas rumah kaca (greenhouse), yang terdiri dari karbon dioksida (CO2), methan, uap air, nitrogen oksid (N2O), clorofluorocarbon (CFC) dan ozon. Sebenarnya gas-gas rumah kaca ini sangat berguna untuk kelangsungan hidup kita, karena sifatnya yang menyerap dan melepas panas sehingga menghangatkan permukaan bumi yang cenderung mendingin. Tapi karena ulah manusialah yang membuang gas-gas rumah kaca (terutama CO2) dari aktifitasnya sehari-hari yang mengakibatkan panas yang ditangkap oleh gas-gas ini jauh melampaui kebutuhan kita………..

Aktifitas manusia yang menambah konsentrasi gas rumah kaca secara signifikan di atmosfer kita diduga dimulai pada era industrialisasi abad ke 18. IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change) pada tahun 2007 melaporkan bahwa “Perubahan konsentrasi gas-gas rumah kaca didalam atmosfer kita mengubah keseimbangan energy dari sistem iklim”, dan menyimpulkan bahwa “bertambahnya gas rumah kaca karena aktifitas manusia sangat mungkin mengakibatkan meningkatnya rata-rata suhu global semenjak pertengahan abad ke 20”. Sumber-sumber gas rumah kaca karena aktifitas manusia adalah :

  • Penggunaan bahan bakar fosil dan pembakaran hutan untuk alih lahan menciptakan gas arang (CO2) yang luar biasa besar. Diperkirakan pembakaran hutan untuk alih fungsi lahan saja menciptakan 1/3 gas CO2 dari seluruh aktifitas manusia.
  • Penggunaan CFC pada kulkas dan system pendingin lainnya.
  • Aktifitas pertanian dan peternakan seperti penggunaan pestisida dan pupuk kimia, kemudian pembusukkan sisa-sisa panen dan kotoran hewan serta manusia menghasilkan gas-gas N2O dan methan.

Dari ke empat gas rumah kaca diatas, yang paling banyak memenuhi atmosfer kita adalah CO2. karena gas inilah yang paling “akrab” dengan aktifitas manusia. Contohnya, Anda mau bebergian dengan menggunakan mobil pribadi atau bis jelas membakar bensin atau solar yang menghasilkan CO2. Naik kereta api ya butuh solar atau kalau kereta jaman dulu butuh batubara yang membuang CO2. Naik pesawat juga butuh aftur yang membuang CO2 juga. Penerangan rumah atau jalan, pendingin udara di kamar atau diruang kantor yang membutuhkan pasokan listrik dari PLN atau sumber lain yang dalam menjalankan pembangkit listriknya sebagian besar masih menggunakan solar atau batubara atau gas, membuang CO2 juga. Juga mesin-mesin pabrik masih dijalankan dengan listrik atau generator sendiri, atau juga dengan batubara.

Berapa banyak setiap orang “memproduksi” CO2 ini? Dari suatu penelitian terungkap bahwa bangsa Amerika dan Australialah yang paling banyak membuang CO2, yaitu  5.5 ton per orang per tahun, kemudian berturut-turut bangsa Eropa 3 ton per orang per hari, dan bangsa Asia antara 0.5 sampai 1 ton per orang per hari. Jika dipersentasikan, maka Amerika dan Australia memproduksi 50% dari total produksi CO2 per tahun, Eropa 35%, dan yang mengenaskan adalah  negara negara berkembang dan negara miskin hanya berkontribusi sekitar 10%., sedangkan justru negara-negara semacam inilah yang sangat terpukul oleh adanya perubahan iklim. Mereka sangat bergantung pada sumber-sumber daya alam dan hampir tidak memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan iklim. Gagal panen, penyakit dan bencana alam adalah sebagian dari akibat perubahan iklim yang menimpa mereka.

Para pakar iklim dari IPCC memperkirakan pada tahun 2100 suhu permukaan planet kita ini akan meningkat antara 1.5oC s/d 5.8oC, dimana kenaikan suhu tertinggi adalah didaerah tropis. Dengan demikian perubahan iklim akan sangat mempengaruhi intensitas dan frekuensi badai, banjir dan kekeringan diseluruh dunia. Perubahan iklim juga bisa mengakibatkan naiknya permukaan air laut, baik karena menghangatnya air laut itu sendiri maupun karena mencairnya gunung es di kutub. Meningkatnya permukaan air laut diperkirakan akan mencapai 15 s/d 95 cm pada tahun 2100 yang sangat mungkin mengakibatkan hilangnya sebagian pulau-pulau kecil, dan tenggelamnya sebagian daerah pesisir. Perubahan iklim sangat mungkin mempengaruhi ketahanan pangan terutama didaerah-daerah pedalaman, secara ekonomis melambungkan harga kebutuhan pokok, kemarau panjang yang mengakibatkan kekeringan bahkan didaerah yang saat ini masih produktif sekalipun.

Apakah perubahan iklim sudah dimulai ? Jawabnya : YA. Perubahan iklim sudah dan sedang terjadi untuk mengubah secara dramatis kehidupan diplanet kita ini! Kita semakin merasakan suhu yang semakin “gerah”, mendengar, membaca atau mengalami kekeringan – atau sebaliknya – banjir yang semakin meningkat intensitas dan intervalnya, perubahan struktur tanah, naiknya permukaan air laut (di pesisir utara pulau jawa  terjadi kenaikan air laut rata-rata sebesar 8 mm per tahun dan diperkirakan 50 tahun mendatang wilayah jabodetabek musnah tenggelam), punahnya sebagian kehidupan liar karena terusiknya habitat mereka, penyakit yang semakin bervariatif dan kehilangan secara ekomonis. Jika kita tidak bertindak MULAI HARI INI, perubahan iklim secara permanen akan merubah tanah dan air dimana kita menaruh harapan untuk bertahan hidup.


Responses

  1. […] This post was mentioned on Twitter by Laurensius Irwantoro. Laurensius Irwantoro said: Hydrology on Climate Change (1): http://wp.me/pJCly-3L […]

  2. On the web das cool

  3. Yah, gimana ya, ….mungkin memang kita yang akan jadi umat manusia terakhir? karena memang tidak mungkin bisa membuat peribahan. Yah, udahlah diterima aja lah apapun kehendak Tuhan.

  4. BUMI kita udah mulai kritis kondisinya….tapi tetap saja tidak ada yang peduli……


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: