Oleh: laurenzz | 12/05/2010

Hydrology on Climate Change (2)

Jika perubahan iklim sangat berpengaruh pada ketersediaan air dan pada akhirnya mempengaruhi system sanitasi, maka perlu kiranya dipahami siklus air itu sendiri di bumi kita tercinta ini.

Air, secara garis besar dapat dibedakan menjadi air permukaan, air tanah dan air laut. Oleh panas matahari, sebagian air menguap menjadi aerosol. Kemudian uap air ini dijatuhkan kembali ke bumi berupa hujan, demikian seterusnya.

Air Permukaan.
Sungai, danau, rawa-rawa, gunung es, gletser, kemudian hujan yang menggenangi dataran rendah dan sebagian akhirnya kembali ke sungai, danau atau rawa, adalah contoh contoh air permukaan. Sebagian air permukaan ini digunakan manusia untuk keperluan pertanian. Perubahan iklim yang menyebabkan cuaca berubah menjadi ekstrim seperti yang telah saya uraikan di bagian pertama membawa pengaruh yang luar biasa pada ketersediaan air permukaan. Contoh kecil dapat kita saksikan di negara kita ini. Dibelahan barat banjir terjadi dimana-mana, sedangkan dibagian timur, sedang terjadi bencana kekeringan. Air permukaan yang sedang melimpah pada musim hujan sangat cepat mengering karena cuaca yang terlalu terik, sehingga pemanfaatan air permukaan untuk keperluan irigasi tidaklah optimal. Disisi lain, pertambahan panas permukaan bumi juga berdampak pada perubahan struktur tanah, ditambah dengan penggunaan pupuk dan pestisida yang berlebihan, maka utilitas tanah menjadi jauh berkurang. Semua hal ini tentu saja berpengaruh pada ketersediaan pangan. Tanaman puso karena kekeringan atau banjir dan serangan hama yang semakin banyak variannya menjadi berita biasa. Akibatnya ketersediaan pangan terganggu dan otomatis melambungkan harga komoditas pertanian.

Air Tanah.
Terletak dibawah kaki kita, hampir 1.5 milyar penduduk di bumi ini menggantungkan ketersediaan air minum mereka dari air tanah ini. Air tanah juga mengisi kembali sungai-sungai dan danau-danau, pokoknya air tanah berperan sangat-sangat penting bagi kehidupan manusia – dan harap diingat – 97 persen air tawar di bumi ini berasal dari air tanah!
Dewasa ini, ketersediaan air tanah juga sedang terancam. Eksploitasi air tanah sejak era industrialisasi terus saja terjadi. Terutama di kota-kota besar, pendirian perumahan, perkantoran dan apartemen juga dibarengi dengan pengeboran sumur-sumur air dalam (deep-well) yang ikut menguras cadangan air tawar dalam tanah.
Dibidang pertanian, kesulitan memperoleh air permukaan juga memaksa pelaku usaha agricultural memanfaatkan air tanah. Sebagai contoh di Katmandhu, sekitar 50% kebutuhan irigasi pertaniannya diperoleh dari pengeboran air tanah. Demikian juga di India (50%), China, Mexico, dan belum lagi di negara-negara “kering” lainnya.

Air Laut.
Naiknya permukaan air laut sangat berpengaruh pada kehidupan manusia, terutama mereka yang hidup didaerah pesisir. Perlu diingat  16 kota-kota terbesar didunia yang berpenduduk lebih dari 10 juta jiwa terletak didaerah pesisir, sebagian besar dari mereka hidup di dataran rendah seperti didaerah bantaran sungai (baca: bantaran ciliwung, delta sungai brantas, dan sebagainya). Sebagian dari mereka juga hidup di pulau-pulau kecil yang hanya beberapa meter dari permukaan air laut. Problem yang mereka hadapi relatif sama, yaitu kenaikan air laut akan menggenangi pemukiman mereka, dan akses ke air bersih semakin sulit mereka peroleh. Dan bukan hal mustahil, hanya dalam hitungan puluhan tahun mendatang sawah, ladang, bahkan tempat tinggal mereka akan tergenang air laut ……..untuk selamanya.

Kekeringan disebagian daerah yang mempercepat pengurasan air permukaan, daya tangkap tanah terhadap air yang semakin berkurang akibat pembabatan hutan, eksploitasi air tanah secara berlebihan, mengurangi kuantitas air secara drastis. Kemudian intrusi air laut (perembesan air laut kedalam tanah daratan akibat berkurangnya air tanah), pencemaran sungai, danau dan air permukaan lainnya oleh sebab apapun (sudah pernah saya tulis dengan judul :Kenali Air dilingkungan Anda) jelas menurunkan kualitas air. Penurunan kuantitas air mengakibatkan berkurangnya ketersediaan air minum dan keperluan lainnya, sedangkan penurunan kualitas air jelas meningkatkan resiko berkembang biaknya penyakit menular. Beberapa ahli meramalkan bahwa ketersediaan air adalah tantangan utama bagi penduduk dunia ini pada abad ke 21, dan ini : kekurangan pasokan air menjadi salah satu faktor kunci penyebab perang yang disebut dengan “perang air”.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: