Oleh: laurenzz | 19/08/2010

Bencana di Rusia..China..Pakistan….di ?

Gelombang panas hingga 380 C – 400 C yang melanda Rusia telah menjadi berita utama berbagai  jenis media beberapa pekan terakhir ini. Betapa tidak, akibat dari gelombang panas tersebut memang cukup mengerikan. 700 orang dikabarkan tewas (ini masih akan bertambah lagi), ribuan hektar hutan terbakar dan kabut asap mengancam baik kesehatan maupun keselamatan transportasi. Belum lagi kerugian secara ekonomis yang mencapai milyaran dollar AS meliputi sektor pertanian, industri dan jasa.  Gelombang panas ini diyakini oleh para ahli sebagai salah satu akibat dari badai tropis yang terbentuk karena cuaca ekstrim. Badai ini, awalnya melanda sebagian besar negara-negara di benua Eropa berupa gelombang panas yang menewaskan sekitar 30 orang, kemudian menghantam China berupa longsor dan gelombang panas juga yang menewaskan ribuan orang dan ribuan lagi dinyatakan hilang.  Badai yang sama  kemudian menerpa Pakistan berupa banjir bandang yang menewaskan sekitar 1600 orang serta jutaan orang lainnya terkena dampak banjir tersebut, berupa kehilangan tempat tinggal, mata pencaharian dan ancaman penyakit menular. Bahkan PBB mengisyaratkan kalau bencana banjir di Pakistan ini lebih buruk dibandingkan bencana tsunami yang terjadi di asia selatan beberapa tahun yang lalu.

Tanpa mengurangi rasa emphati kita kepada mereka yang sedang tertimpa musibah mengerikan itu, kita pantas bersyukur karena negara kita “belum” terkena badai gelombang panas yang mampu meluluhlantakkan peradaban manusia itu.  Saya katakan  “belum” karena bukan tidak mungkin – dalam waktu yang tidak terlalu lama – negara kita juga terhantam bencana badai atau sejenisnya yang lebih besar intensitasnya dari yang kini sedang terjadi, jika kita dan semua penduduk didunia ini tidak berusaha mencegah atau setidaknya “mengulur waktu” terjadinya bencana-bencana yang lain.

Pertanyaannya,  apa penyebab terjadinya bencana-bencana yang makin kerap terjadi itu ? Atau lebih spesifik lagi, apa penyebab badai yang melanda eropa, asia tengah dan asia selatan itu ? Dikatakan bahwa badai tersebut terbentuk karena cuaca ekstrim. Oke. Pelajaran ilmu fisika yang paling dasarpun mampu menjelaskan : kalau ada dua tempat yang berbeda suhunya, maka terjadi aliran udara (angin) dari tempat yang lebih dingin ketempat yang lebih hangat, atau tempat yang bertekanan lebih tinggi (karena udara lebih padat) ke tempat yang bertekanan lebih rendah (karena udara lebih renggang). Angin puting beliung contohnya,  terjadi karena suatu wilayah yang bertekanan rendah dikelilingi oleh wilayah-wilayah yang bertekanan tinggi sehingga angin yang dihasilkan menciptakan pusaran. Jadi kalau dikatakan penyebab badai itu karena cuaca ekstrim, logikanya ada tempat/wilayah yang panasnya ekstrim sehingga aliran udara  ke wilayah tersebut ekstrim juga, yaitu ektrim kecepatannya (sehingga terbentuk badai) yang celakanya lagi jika ini terjadi di musim panas seperti di Rusia, maka jadilah badai gelombang panas.

Cuaca ekstrim juga pernah melanda negara kita. Anda tentu masih ingat betapa menyengatnya udara disekitar kita dua atau 3 bulan yang lalu.  Itu adalah pengaruh cuaca yang ekstrim – artinya – suhu udara disekitar kita diatas rata-rata suhu  yang biasanya terjadi pada bulan-bulan yang sama, dan oleh karena tubuh kita belum beradaptasi dengan “penyimpangan” panas itu, maka kita merasa kegerahan. Penyimpangan musim yang kini sedang terjadi di negara kita juga merupakan akibat dari cuaca ekstrim.  Pada bulan Juli dan Agustus yang sejak jamannya orang tua, eyang atau embah kita merupakan pertengahan musim kemarau dimana udara dingin dipagi hari serasa menusuk tulang, kini tidak terasa lagi dinginnya. Embun dan kabut pagi yang biasanya sering kita lihat, kini juga jarang menampakkan diri lagi.  Bulan April – September yang seharusnya musim kemarau, tapi – setidaknya – di tempat saya hujan masih saja turun dengan lebatnya bahkan hampir setiap hari. Cuaca ekstrim juga mengakibatkan penyimpangan musim yang berpengaruh pada sektor perikanan dan pertanian . Bulan Juli , Agustus, September yang biasanya musim panen ikan bagi nelayan-nelayan di pantai selatan, tapi kini mereka jarang melaut karena tingginya ombak dan besarnya gelombang laut. Kalaupun mereka nekat melaut, hasilnya terkadang hanya cukup untuk membeli solar, lalu ngutang sana sini untuk memberi makan keluarganya.  Disisi lain hujan yang terus menerus mengguyur bumi  mengakibatkan banjir di lahan-lahan pertanian sehingga banyak tanaman pertanian yang membusuk sehingga gagal panen banyak menghantui para petani.

Lalu apa penyebab cuaca ekstrim ?  Sebagian besar pakar klimatologi maupun pakar lingkungan utamanya dari IPCC (Intergovermental Panel on Climate Change) meyakini bahwa penyebab cuaca ekstrim  adalah pemanasan global yang sedang melanda bumi kita tercinta ini !  Ya, pemanasan global seolah menjadi momok yang menakutkan seluruh penghuni jagad raya ini, bahkan para petinggi seluruh negeri berkepentingan untuk mengadakan pertemuan puncak tentang perubahan iklim dan pemanasan global dimana yang terakhir diadakan di Kopenhagen tahun 2009, dan sebelumnya di Bali-Indonesia.

Pemanasan global secara sederhana dapat dijelaskan demikian. Bumi kita setiap harinya menerima panas dari matahari. Energi panas tersebut sebagian dipancarkan kembali keatas oleh permukaan bumi dan oleh aerosol (yaitu partikel-partikel sangat kecil berupa uap air, debu dan partikel kimiawi). Kemudian sebagian panas “kiriman” dari bawah ini ditangkap oleh gas-gas rumah kaca seperti CO2, N2O, CFC, Methan dan ozon. Dalam jumlah yang proporsional sebenarnya gas-gas rumah kaca ini berguna juga lho untuk menghangatkan bumi  yang cenderung mendingin (kalau tidak ada gas rumah kaca, suhu bumi “hanya” -180 C ! Cukup untuk membekukan tubuh berikut nyawa kita), karena sifatnya yang menyerap dan melepaskan panas. Tapi celakanya karena ulah manusia maka jumlahnya sudah kelewat banyak dan cenderung terus meningkat dengan tajam setiap tahunnya !

Jadi penyebab utama (mungkin ada penyebab-penyebab yang lain) pemanasan global adalah efek rumah kaca. Green house (rumah kaca) sendiri berupa sekumpulan gas seperti karbon dioksida (co2), nitrogen, methane, uap air, ozon dan chlorofluorocarbon (CFC). Dan dari gas-gas rumah kaca tersebut, lebih dari 60% didominasi oleh Co2!! Nah, sekarang darimana sajakah Co2 ini berasal ?

Co2 atau carbon dioksida dihasilkan oleh sisa-sisa pembakaran, baik secara alami maupun campur tangan manusia.  Misalkan Anda dan keluarga Anda sedang piknik dan malam hari membuat api unggun untuk mengusir nyamuk atau dinginnya malam, nah api unggun itu kecuali menghasilkan residu berupa arang juga melepas gas co2. Atau jika Anda bebergian menggunakan sepeda motor, asap dari sisa pembakaran mesin motor Anda juga melepaskan gas co2. Jadi singkat kata gas co2 dihasilkan pertama-tama oleh aktifitas manusia, utamanya penggunaan bahan bakar fosil. Sejak jaman industrialisasi tahun 1800an bahan bakar fosil sudah akrab dengan kegiatan manusia, baik untuk menggerakan mesin-mesin industri, transportasi, penerangan dan lain sebagainya. Celakanya lagi, negara yang paling rakus menggunakan bahan bakar fosil adalah Amerika dan Australia, artinya merekalah yang paling banyak membuang gas co2 keudara, yaitu sekitar 5 ton per orang per tahun atau 50% dari total produksi co2!! Lalu berturut-turut negara-negara di Eropa sekitar 3 ton per orang per tahun (35%) dan yang paling buncit adalah negara-negara Asia 1 ton per orang per hari (10%). Celakanya lagi, negara yang paling terkena dampak pemanasan global adalah negara-negara miskin justru yang paling sedikit membuang co2!!

Gas-gas pembentuk efek rumah kaca selain co2 adalah nitrogenoksida, metana, dan chlorofluorocarbon (CFC). Kalau Nitrogen oksid dihasilkan dari pemakaian pestisida dan pupuk kimia yang mengandung nitrogen secara berlebihan, metana dihasilkan dari proses pembusukan kotoran hewan ternak, dan CFC  dari system pendingin seperti kulkas, pendingin ruangan, cool storage dan pendingin lainnya. Oya, ada satu zat lagi pembentuk efek rumah kaca, yaitu belerang. Zat ini dalam jumlah besar dihasilkan dari aktifitas penambangan-penambangan mineral dan hasil tambang lainnya, dimana pengerukan tanah, penampian, penyaringan  dan pembersihan akan mengakibatkan belerang terbawa air, menguap dan menjadi gas belerang. Gas-gas ini berkontribusi tidak terlalu besar terhadap efek rumah kaca, tapi dampak eksploitasi dan pemakaian yang berlebihanlah yang mengancam kelangsungan hidup tumbuhan, hewan dan kita manusia. Itulah hakiki dari efek rumah kaca yang mengakibatkan pemanasan global. Tapi perlu Anda pahami, bahwa pemanasan global TIDAK HANYA menimbulkan badai dan kemudian gelombang panas atau longsor atau banjir. Banyak potensi-potensi bencana yang disebabkan pemanasan global ini.

Singkat kata, pemanasan global mengakibatkan suhu permukaan bumi lebih hangat dari suhu normalnya. Kita tidak tahu pasti berapa suhu “normal” permukaan bumi, tapi yang jelas telah terjadi peningkatan yang signifikan pada suhu bumi, dan IPCC memprediksi bahwa pada tahun 2100 peningkatan suhu permukaan bumi mencapai sekitar 5.60 C. Artinya, bila saat ini dikenal dalam ilmu fisika bahwa suhu kamar adalah 25%, maka pada waktu itu  suhu kamarnya meningkat menjadi 310C!  Atau, jika pada saat ini suhu rata-rata di daerah tropis – seperti negara kita ini – pada tengah hari yang cerah sekitar 330C, maka pada waktu itu suhu akan meningkat menjadi 390 C! Nah siapa yang tahan ?  Berikut ini daftar “bencana” pemanasan global yang sangat mungkin terjadi sekarang, dan dimasa mendatang.

  • Menghangatnya suhu permukaan bumi berarti pemusnahan sebagian spesies baik tumbuhan maupun hewan yang hidup di hawa dingin sampai sedang atau yang memerlukan kelembaban yang tinggi untuk hidup. Diperkirakan, pertambahan suhu 1 sampai 2 derajad saja akan memusnahkan 20 sampai 30% spesies tumbuhan dan hewan. Ironis sekali bila anak cucu kita kelak mengenal penguin atau beruang kutub misalnya, hanya dari gambar.
  • Menghangatnya suhu permukaan bumi akan menaikkan permukaan air laut. Laporan dari IPCC menyebutkan bahwa telah terjadi kenaikan permukaan air laut sebesar 25 cm dalam 100 tahun terakhir ini, dan laporan lain dari Green Peace Internasional menyebutkan bahwa tahun 2100 mendatang, kenaikan permukaan air laut bisa mencapai  95 cm! Nah, jika benar kenaikan permukaan air laut mencapai 1 meter, berarti banyak sekali pulau-pulau di Indonesia dan negara kepulauan lainnya tenggelam, daerah-daerah pesisir hilang, dan Anda dapat membayangkan bagaimana nasib kota-kota yang terletak di pesisir  seperti Jakarta, semarang dan Surabaya.
  • Pemanasan global jelas mengakibatkan cuaca ekstrim. Perubahan tekanan dan suhu udara juga mengakibatkan perubahan iklim dan pergeseran musim, artinya musim kemarau akan berlangsung lebih lama sehingga lebih berpotensi  menimbulkan bencana kekeringan. Dilain pihak musim hujan akan berlangsung lebih singkat tapi dengan intensitas yang lebih tinggi sehingga berpotensi mengakibatkan bencana badai, banjir dan tanah longsor .
  • Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kenaikan suhu permukaan bumi mengakibatkan produktifitas pertanian menurun terutama untuk pertanian di daerah tropis. Kenaikan suhu permukaan bumi juga akan mencairkan es di kutub lebih intens (baru2 ini terjadi “pemisahan gunung es seluas 260 km2 dari gletsyer di green land yang sampai sekarang masih menjadi berita menggemparkan) sehingga bisa mengakibatkan kenaikan permulaan air laut dan pemuaian massa air laut sehingga akan menurunkan produksi tambak udang dan ikan laut. Akumulasi dari penurunan produksi pertanian, perikanan dan peternakan dibarengi dengan pertambahan jumlah penduduk dunia dikhawatirkan berakibat menimbulkanbencana kelaparan dan gizi buruk. Keadaan ini diperburuk oleh krisis air bersih karena kemarau berkepanjangan terutama untuk daerah pesisir dan daerah tropis. Chaos di bidang ekonomi bukan ancaman kosong!
  • Naiknya suhu udara menyebabkan masa inkubasi nyamuk dan serangga pembawa penyakit lainnya (vektor) semakin pendek. Serangga-serangga tersebut akan berkembang biak lebih cepat sehingga penyebaran penyakit tropis seperti diare, demam berdarah, malaria semakin cepat. Menengok wabah kolera yang melanda korban banjir di Pakistan yang datang begitu cepatnya menggambarkan bencana penyakit menular semakin mengancam.

Sekali lagi saya tidak ingin mengecilkan arti bencana gelombang panas di Rusia, banjir di Pakistan dan longsor di China yang menelan korban ribuan orang. Bencana – sekecil apapun – tetap merupakan tragedi kemanusiaan, dan untuk itu saya sangat beremphati. Tapi yang ingin saya kemukakan disini adalah, bahwa bencana-bencana semacam itu hanyalah awal dari bencana-bencana yang lebih besar seperti yang saya tulis diatas. Musnahnya sekian banyak spesies tumbuhan dan hewan, tenggelamnya pulau-pulau (terutama yang dihuni manusia) dan daerah pesisir, kelaparan, gizi buruk dan krisis air minum global, serta wabah penyakit menular seperti kolera, demam berdarah dan malaria, sungguh merupakan tragedi kemanusiaan yang tak kalah mengerikan dibanding  dengan bencana-bencana yang telah terjadi. Menilik hal ini maka penduduk diseantero dunia harus bahu membahu memerangi bencana. Caranya ? Hentikan pemanasan global! Sembuhkan bumi kita yang sedang sakit ! Caranya ? Banyak cara !! Di media cetak dan elektronik, di internet dan di media-media informasi lainnya telah banyak cara yang dibahas untuk mengurangi pemanasan global.  Tak kurang dari 5 tulisan pada blog ini juga berbicara tentang pemanasan global dan bagaimana kita menyikapinya. Yang terpenting adalah, komitmen dari segenap komponen bangsa di dunia ini untuk bahu membahu memerangi penyakit bumi. Sikap egoistis dari suatu bangsa harus dikikis habis, jual beli co2 yang hanya menunjukkan dominasi suatu bangsa terhadap bangsa lain tidak akan menyelesaikan masalah, bahkan rawan penyimpangan. PBB dalam hal ini harus bersikap tegas dan adil.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: